Postingan

Ada apa

Ku fikir paham mu lebih dalam atas ketidakseimbangan ini. Kau sibuk menata hati, begitu juga aku. Kita saling sibuk. Hingga tak sadar bahwa kita tak lagi bertegur sapa. Tak lagi mengingat. Siapa dan bagaimana yang lebih dahulu jatuh cinta. Perkiraan ku kau sekarang sedang bermenung ditempat biasa kita bertemu. Tempat dimana kita saling beriringan. Mengingat hal-hal ganjil yang sudah mulai terasa. Inilah yang kita inginkan (katamu). Saling ketidaktahuan. Membuang muka sekaligus (hati) mu. Kau mengeja namaku terbata-bata. Memperlihatkan bahwa lidahmu tak lagi sejalan dengan inginku. Jalan telah bersimpang. Hingga kau berpijak di bumi yang lain

Pergi

Seringkali sunyi ini ku gayutkan pada sebatang pohon kelapa. Lalu ia mendayu-dayu Membising Mengetuk-ngetuk nadi ku Resah ku Mendempa kening Mengerut Keras membeku Kumis tipis menarik perhatian ku Menjelma bak malaikat surga Menyentrum sudut jantung ku Tiba-tiba ia pergi

Rindu?

Aku sempat menitipkan rindu pada sebongkah pasir. Pasir yang ku temui senja itu. Bukan aku tak mau membawa rindu pulang. Namun, ada sedikit kengerian terlintas dipikiranku. Jangan-jangan rindu hanya menyiksa seluruh aliran darah ku. "Dia sudah tidak ada lagi". Jawab pasir mengagetkan ku. Ia memejam,menunduk, sedikit menggeleng. Lalu mengambil posisi untuk berbalik arah dari ku. "Kemana dia?" Tanyaku sekali lagi. "Dia pergi selamanya" bisiknya ke daun telinga ku. Hawa panas nafasnya terasa sekali. Merinding. "Bukankah rindu diciptakan memang menjadi bagian dari manusia?" aku mengernyitkan dahi. Mengulang-ngulang pertanyaan ku di dalam hati. Oh apakah salah. Tak ada suara. Tak ada jawaban. "Dasar manusia bingas. Ku beritahu sesuatu. Rindu memang ada untuk manusia, termasuk kau. Tapi, apakah kau tahu bahwa manusia seringkali tak sadar memperlakukan rindu seperti apa?
An-nahl 77 "Dan milik Allah (segala) yang tersembunyi di langit dan di bumi. Urusan kejadian kiamat itu, hanya seperti sekejap mata atau lebih cepat lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu" Al-isra 36-37, 41, 94-95 maryam ayat 39 Taha 15 Al-anbiya 1 An- naml ayat 87

Pura-pura

Aku benci kepura-puraan yang selalu menjadi bala dalam kehidupan makhluk yang bernama manusia. Kepura-puraan nyaris ikut andil pada setiap sudut titik hidup. Celakanya, aku sering berpura-pura. Terkadang beberapa keadaan memaksaku melakukannya.

Jatuh cinta

Aku tiada paham bagaimana yang disebut jatuh cinta? Apakah jatuh cinta itu terselip rindu? Apakah jatuh cinta harus ada pengorbanan? Apakah jatuh cinta  berupa kesakitan memendam? Apakah jatuh cinta menghabiskan waktu untuk menunggu? Apakah jatuh cinta adalah sebuah pertemuan? Siapapun beritahu aku, jatuh cinta itu bagaimana?

Hujan

Sesekali aku sempat memperhatikan hujan dari dekat, tapi tak jarang juga memperhatikanya dari jauh. Aku merasa, bahwa setiap titik yang jatuh itu adalah bagian dari rinduku. Yang telah ku sematkan pada atom-atom penyusun rintik hujan. Rindu yang ku pendam selama berhari-hari, berjam-jam seharian ketika bumi selalu terik. Dan saat waktunya tiba, aku ikut menghempaskan rindu terpendamku bersama rintik hujan. Bersama kelabunya langit. Dan bersama berisiknya gemercik air di jalanan. Apa ada rindu yg lebih dalam dari ini? Aku tak kuat melihat gerut wajah nya tuhan. Aku benar-benar tak kuat. Jika aku bisa, aku ingin memeluk malaikat itu. Malaikat yang bertahun-tahun menjaga ku dengan tulang nya yang mungkin sudah mulai ringkih. Ah, mungkin kalian akan kejam mengejekku saat ini. Dasar cengeng! Mulai saat ini ku beritahu. Jika kalian menemukan hujan. Dimana pun. Itu artinya, aku sedang merindu. Merindui mereka.