Pada akhirnya, yang berjuang dengan kejujuran akan berhasil, pun yang berjuang dengan kecurangan (juga) akan berhasil. Bedanya, yang jujur akan menempuh perjalanan dengan penuh hikmah. Membuatnya bertumbuh dalam ruang-ruang kebaikan. Pola pikirnya, tujuan hidup, dan sikapnya terhadap garis takdir akan mengarahkannya lebih dekat dengan Allah. Karena ia tahu, bahwa apa yang ia lakukan tak hanya soal pencapaian tanpa makna. Sedangkan yang curang tidak akan menambah apa-apa darinya selain kesombongan, perasaan hidup yang tidak tenang, dan ambisius dunia yang semakin membesar. Yang jujur akan pulang dengan sebaik-baiknya amal dan sebanyak-banyaknya bekal. Sedangkan yang curang akan pulang dengan segudang penyesalan;seandainya dulu aku tidak begitu. Bukankah setiap perjalanan itu dihitung? Bukankah setiap hari yang dilewati itu harusnya bernilai? Maka benar, kita boleh memilih akan berjalan pada rel yang mana. Dan berpulang dengan cara seperti apa.
Postingan
Kejutan Allah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kalau Allah bilang semuanya sudah dijamin. Lalu adakah kita perlu bersikap sekhawatir ini akan sesuatu yang belum tentu terjadi? Kerahasiaan akan masa depan seharusnya jadi sesuatu yang buat kita semakin mendekatkan diri pada Allah. Itu tandanya, kita benar-benar kecil dan nggak punya daya apapun. Boleh galau sih, boleh gelisah. Ya, namanya juga manusia. Asalkan kegalauan dan kegelisahan itu jadiin kita makin lengket sama Allah. Bukan malah sebaliknya. Kita ngeluh sampai-sampai kita bilang Allah nggak adil, Allah nggak sayang. Lho, bukankah sikap seperti itu malah jadiin hati kita makin keras, dan akhirnya kita nggak bisa ngeliat hikmah yang Allah selipin dalam ketetapan itu. Sekelas Nabi ibrahim saja juga sempat gelisah dan galau kok. Pernikahannya dengan Siti Sarah tak kunjung dianugerahi keturunan. Tapi apakah Nabi Ibrahim bilang "Allah kok nggak adil sih, gue kan Nabi? Enggak. Nabi Ibrahim tetap ikhlas dan terus doa sama Allah. Lalu datanglah berita dari malaikat "M...
Penilaian manusia
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kalau kamu ingin menjadi orang baik sesuai versi manusia, jangan. Capek. Karena nggak bakal pernah ada habisnya. Si A pengen kita lebih gini, sedangkan si B pengen kita lebih gitu. Si C bilang kita udah nggak asyik, sedangkan si D lebih suka kita yang sekarang. Nah, bingung kan nurutin yang mana? Akhirnya kita bukan bermuka dua lagi, tapi bermuka banyak wkwk jangan sampai jangn sampai Standar penilaian manusia itu beda-beda. Entah 'baik' menurut mereka itu yang kayak gimana. Karena terkadang mereka menilai itu pake nafsu. Yah, sama-sama tahu aja kerja nafsu itu gimana. Sangat sangat tidak pantas untuk dijadiin rujukan. Hari ini, banyak orang yang hidup dalam kepura-puraan. Cuma hanya untuk dapatin tempat tertinggi di hati banyak manusia. Itu pasti nyiksa banget. Karena sama aja kita nggak menghargai diri kita sendiri. Menukar penghargaan diri dengan pujian fana yang dengan sekejap bisa aja berubah. Sekarang, coba berhenti dari itu semua, lalu mulai tata perilaku kita d...
Hidayah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tahun udah naik satu angka, dan iman kita? Masih mau di situ aja? Kita sering banget mengkambing hitamkan hidayah kalau sudah ngomongin soal iman Belum dapat hidayah nih Hidayah kok nggak datang-datang ke gue ya?Yakin nggak datang? Atau emang kamu yang ngusir seenaknya aja saat hidayah itu datang? Pernah nggak sih di suatu titik kamu tiba-tiba kepikiran Pengen juga kayak si A, kerudungnya panjang kelihatan lebih adem (cuma angan-angan doang) Si B kok ngajinya bagus ya, kapan gue bisa gitu (nanya kapan bisa, tapi baca quran aja cuma itungan jari) Enggak mau pacaran lagi ya allah, sakit hati mulu (seminggu habis itu pacaran lagi) Terbuktikan kamu yg ngusir hidayah itu sediri? Padahal mungkin udah ribuan kali allah datangin, tapi kamu memilih balik lagi ke masa jahiliyah kamu Seandainya kamu tahu gimana mahalnya hidayah itu, yang nggak bisa digantiin sama emas berlianmu, seharusnya saat ini kamu nangis buat minta lagi sama Allah Sekelas keluarga nabi saja ada yang tidak allah ka...
Hukum Allah vs Hukum manusia
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Syariat mungkin hadir bukan hanya sebagai pengatur. Tetapi juga sebagai rambu-rambu. Di mana ada hal-hal yang boleh kita lakukan, dan tidak boleh kita langgar. Rambu-rambu biasanya dijadikan rujukan atas sesuatu hal. Oh, kalau ini kamu lakukan berarti kamu salah. Kamu sudah melanggar rambu-rambu. Kamu berdosa. Dan kamu akan mendapatkan hukuman. Kita tahu bahwa hukuman di sini ialah balasan yang akan kita terima di akhirat nanti. Balasannya sesuai dengan besarnya dosa yang kita buat. Memang di dunia kita juga mengenal yang namanya hukuman. Tapi apakah hukuman manusia itu seadil Allah? Sudah jadi rahasia umum, kalau hukum itu tumpul ke atas dan runci ke bawah. Uang bisa membeli hukum manusia. Koruptor sekian milyar bisa berkeliaran ke mana saja dengan tenang. Sedangkan seseorang yang mencuri sendal jepit terpaksa harus masuk jeruji selama beberapa tahun. Bukankah itu aneh?
Pacaran?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dulu pas masih zaman Abege, aku ngerasa aneh sama orang yang memutuskan untuk nggak punya pacar. "Lha, emang iya bisa bahagia tanpa pacar?" Punya pacar itu asik lho. Ada yang antar jemput, ngajakin makan, perhatian, dan kesenangan lainnya. Dulu aku percaya bahwa nggak semua yang pacaran itu menjerumus ke maksiat. Cuma oknum-oknum tertentu saja yang ngelakuin itu. Karena yang namanya cinta itu suci. Nggak pantas kalau disatuin sama kemaksiatan. Hingga tahun berlalu cepat. Kejadian demi kejadian menunjukkan bahwa mindshet aku tentang pacaran itu salah. Semakin banyak aku belajar agama, semakim aku tertampar keras. Pacaran sebelum nikah itu tetap haram karena pasti mearah ke maksiat. Pasti. Bukan mungkin lagi. Bohong kalau ada yang bilang "saya pacaran nggak ngapa-ngapain kok". Kalau nggak ngapa-ngapain, ngapain pacaran? Percayalah, siapapun kamu yang hari ini sedang pacaran. Bahwa status yang kamu banggakan itu hanyalah fasilitas untuk kamu dan pacar kamu melamp...
Menutup Aurat
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzab/33:59] Sudah banyak buku-buku yang membahas mengenai hijab. Dan dalam tulisan ini hanyalah satu dari sekian banyaknya buku tersebut. Hari ini, di saat kita masih ragu untuk berhijab sesuai syariat. Disaat kita masih berpikir ‘nanti saja’. Karena kita mungkin merasa;bahwa kita belum mampu melakukannya. Kita masih gengsi. Orang-orang menilai kita hanyalah wanita biasa. Nggak terlalu taat dalam ibadah. Jadi, tunda dulu ah. Pasti gerah pakai jilbab menutup dada gitu. Masih susah untuk aktivitas sehari-hari. Aku kan orangnya aktif. Banyak aktivitas. Dan alasan seabrek lainnya. Mungki...