Postingan

Mengupayakan Allah

Kamu boleh merancang rencana-rencana apapun; mengupayakannya, serta giat memohon pada-Nya. Kamu boleh mengumpulkan harapan-harapan apapun; berusaha mencapainya dan tak lupa menyertainya dengan doa. Boleh, sangat boleh. Yang kamu lakukan itu sudah benar, karena kamu sudah berjuang dalam ruang yang semestinya, sesuai fitrahmu sebagai manusia. Yaitu berfokus pada ranah ikhtiar bukan pada ranah hasil. Jika kamu gagal, bukan berarti kamu menjadi manusia yang paling menyedihkan. Karena sesungguhnya setiap diri sedang menjalani alur takdirnya masing-masing. Jika kamu belum berhasil, bukan berarti kamu menjadi manusia yang tidak beruntung. Karena sesungguhya setiap diri adalah karya terbaik dari Allah. Karena pencapaian itu tak selalu menandakan ia terbaik, terjauh ataupun terkeren. Bukankah ketiga label tersebut hanyalah predikat dari manusia? Sejak awal, kita sudah mulai bersepakat. Bahwa kita berjuang bukan untuk itu, melainkan untuk kebaikan yang abadi. Yang nantinya akan menyelamatkan ...

Bersepakat dengan diri sendiri

Mau tidak mau, dalam perjalanan ini tidak hanya hal-hal menyenangkan yang akan kita temui. Sebagaimana Alah menciptakan dunia ini seimbang. Keburukan dengan kebaikannya, kejelekkan dengan kecantikannya,  serta kesulitan dengan kemudahannya. Sudah sunnatullahnya seperti itu. Hari-hari yang akan kita lalui akan semakin panjang dan melelahkan. Setelah tamat jadi siswa, akan menjalani peran baru sebagai mahasiswa. Setelah tamat jadi mahasiswa, akan menjalani peran baru pasca kampus. Entah peran sebagai mahasiswa lagi, karyawan kantor, pegawai negeri, seorang freelance, atau memutuskan menjadi seorang istri/suami. Peran-peran itu sama mulianya. Tidak ada yang lebih baik atau buruk. Waktu yang bergulir memang mempertemukan peran sepaket dengan tanggung jawabnya. Oleh sebab itu, kita tidak bisa asal-asalan memilih peran. Harus bisa mengukur, sudah sebesar besar upaya kita untuk berani mengemban tanggung jawabnya? Berani ditempa dengan masalah baru;kejadian baru. Pasti akan lebih capek...

Perjalanan waktu

Perjalanan waktu selalu mengantarkan kita pada definisi baru dalam kehidupan . Tentang pilihan, keputusan, kebahagiaan, dan lainnya. Semuanya perlahan berganti sendiri seiring berubahnya prinsip dan value yang kita pegang. Prinsip itu tumbuh dari perjalanan kita mencari dan memahami ilmu-Nya. Dari apa-apa yang membuat kita belajar dan menemukan hikmah. Dari kejadian-kejadian yang mendidik kita untuk mempunyai sudut pandang yanng baru tentang apa itu yang namanya kehidupan. Yang dulu terlihat rumit, ternyata begitu sederhana. Pun yang terlihat sederhana, nyatanya tak sesederhana yang kita kira. Cara kita menakar sudah berbeda. Dulu, pilihan kita hanya seputar mau sekolah di mana, di jurusan apa, dan akan menuntut ilmu seperti apa. Kini pilihan itu berganti;mau berperan di mana, berdaya sendiri atau ikut-ikutan tren, dan menghabiskan waktu dengan aktivitas apa. Dulu, keputusan itu hanya berangkat dari pertimbangan apakah itu membuat kita senang atau tidak. Sulit atau mudah. Kalau k...

Yang tertunda vs yang disegerakan

Yang tertunda itu dari Allah. Pun yang disegerakan juga dari Allah. Yang tertunda bukanlah semata-mata diberikan untuk menjadi bagian dari kesedihan kita, pun yang disegerakan belum tentu menjadi bagian dari kebahagiaan kita. Allah menyembunyikan dan menyimpannya.Tetap menjadikannya sebagai sesuatu yang tidak bisa ditebak oleh logika manusia. Karena pada hakikatnya apa-apa yang melekat pada diri manusia itu terbatas. Penglihatannya terbatas, tangannya terbatas, kakinya terbatas, pendengarannya terbatas, pun kecerdasannya terbatas. Yang tersembunyi itu sengaja di hadirkan untuk dijadikan pembelajaran. Dan tidak ada pembelajaran yang paling baik selain pembelajaran yang membuat iman kita bertambah setiap harinya. Jika rangkaian kejadian yang Allah timpakan kepada kita hanya membuat kita lebih angkuh, lebih sombong, dan iri hati, berarti ada yang tidak benar dari cara kita memaknai kejadian tersebut. Pun jika kejadian itu hanya membuat kita putus asa, hilang harapan, dan suka mengeluh. J...
Allah Yang Maha Mengerti tentang diri kita, tentang mimpi-mimpi kita, tentang upaya kita, tentang kesabaran kita, tentang daya juang kita, tentang pengorbanan kita, tentang kebahagiaan kita, tentang rasa sayang kita. Maka saat terjadi pergesekan, ketidaksesuaian, tidak seimbang, tidak pas. Kembalikan lagi semuanya pada Allah. Serahkan dengan ikhlas, tanpa ada rasa khawatir, tanpa ada rasa ragu. Bahwa Allah pasti akan menjadi tempat sebaik-baik penyelesaian. Sebaik-baik tempat menemukan jawaban atas kegelisahan. Hingga kita sampai di titik kerinduan. Rindu dengan lelah-lelah kita hari ini. Rindu akan upaya-upaya kita, kerja keras kita. Rindu akan tangisan kita, perjuangan kita. Merindui segala hal yang sudah kita lewati menuju jalan Allah. Ternyata senikmat ini, semenyenangkan ini.

Ramadhan 1440

Sering saya lupa bahwa ramadhan tidak hanya tentang menjalankan ibadah puasa. Tidak hanya tentang menyelesaikan target-target yang sudah saya sepakati sejak sya'ban . Tidak hanya tentang agenda-agenda baik yang sudah saya direncanakan. Nyatanya Ramadhan adalah tentang kekuatan dari Allah. Dikuatkan untuk tidak makan dan minum kurang lebih 12 jam. Padahal biasanya jarak 2-3 jam saja perut berontak minta diisi. Tapi ajaibnya , kala ramadhan si perut tetap calm tuh. Dikuatkan untuk meninggalkan perkara-perkara yang sia-sia, sehingga di tengah lemasnya badan pun kholas itu alhamdulillah tercapai. Pin dikuatkan berakvitas yang bahkan lebih padat dari hari biasanya. Tanpa Allah, tak mungkin semua itu dapat dilakukan. Nyatanya Ramadhan adalah tentang teguran dari Allah. Bahwa di hari-hari biasa pun kita sejatinya mampu beramal seperti hari ini. Ditegur akan waktu yang berlalu begitu cepat. Baru kemarin awal Ramadhan, eh sekarang sudah setengah jalan saja. Pun ditegur bahwa menjadi ham...

Rezeki itu

Suatu hari nanti, entah di waktu yang kapan, pemahamanmu terhadap rezeki akan begitu meluas. Rezeki tidak lagi tentang apa-apa yang mengenyangkan perut. Tidak lagi terbatas atas sesuatu yang sudah kita miliki. Tidak lagi perihal deretan angka-angka dalam buku tabungan. Atau tentang sesuatu yang sudah kita capai. Diberi hidayah islam itu rezeki. Diberi nikmat sunnah, dimudahkan dalam ketaatan dan beramal itu rezeki. Dimampukan menuntut ilmu agama oleh Allah, diluaskan waktu untuk mempelajari Al-quran. Itu semua rezeki. Jika terfokus mencari rezeki yang sifatnya duniawi maka merugilah dirimu. Karena apa-apa yang seperti itu akan lenyap dan hilang. Pun dengan harta. Orang-orang baik di sekitar kita itu rezeki. Sahabat, teman yang selalu mengingatkan dalam kebenaran itu adalah harta. Suami yang terus membimbing istrinya kepada ketaatan adalah harta. Istri yang mengokohkan keimanan bagi suami dan anak-anaknya adalah harta. Pun anak-anak yang tumbuh dalam sunnah adalah harta. Mereka ad...